Komedi Lika-liku Kehidupan Mahasiswa PSP- Gaya Mahasiswa (2019)
Monos, Rojali, Ade, Andra, Adit, Dindin, James, and Omen are students who are crazy, ignorant, but cool in music and are members of the OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). They are always agree in all matters, but in romance they make bets, as do Rojali, Monos and Ade. Ade has fallen in love with Fatima, a beautiful and sexy boarding house nanny. Dindin, Andra, and Adit are the trouble maker. They like to make pranks on campus so they are subject to sanctions for dropping out. They are shocked by the case of robber. This case developes into a hoax, which involved their college friends. Omen and James are moved to investigate this case with the help of PSP friends.
Film kemudian membagi kisah ke dalam tiga grup, tiga orang playboy dalam grup Ade, Rojali dan Monos bersaing mana yang terlebih dahulu mendapat pacar, tiga orang jahil Dindin, Adit dan Andra iseng dan terus jahil di kampus dan Omen bersama James sibuk mencari job manggung, setelah band mereka dipecat dari salah satu kafe akibat tidak menggaet banyak pengunjung kafe. Di sela-sela kesibukan mereka kuliah mereka pun dihadapkan pada misteri kasus penjambretan handphone anak Pak Satpam (Iyang Darmawan) yang terjadi di kampus mereka. Mereka pun kompak menyelidiki siapa pelaku penjambretan tersebut.
Yang berkaitan dengan seni juga banyak; aku tahu bukan salah filmnya jika mereka keluar terlalu cepat sehingga lebih duluan dari masalah RUU Permusikan yang sedang marak, tapi cerita toh bisa dengan mudah mengarah ke mereka dilarang atau dibatasi main musik oleh kampus. I mean, logisnya kalo kita bikin film tentang anak muda main musik, mustinya ada kalanya mereka dihalangi untuk melakukan kerjaan mereka. Film, menjauh dari musik, mengalamatkan kritik kepada sebaran hoax pada masyarakat, tapi ‘kasusnya’ sangat basic dan menjadikannya tidak actually menyelesaikan dengan kekhasan PSP itu sendiri. Di awal-awal kita melihat anak-anak PSP menyabotase seminar kampus yang kuasumsikan sebagai bentuk kritikan mereka terhadap ‘kebohongan’ yang dilakukan oleh rektor. Hanya saja menurutku, candaan di sini lumayan tasteless karena pada akhirnya jatoh seperti delapan mahasiswa itu mengolok-olok seorang orang cacat yang lebih tua. Dan hingga akhir cerita mereka tidak diperlihatkan menyesal atau menyadari apa yang sudah mereka lakukan tersebut.
Film menunaikan tugasnya dengan baik sebagai komedi lika-liku kehidupan mahasiswa Orkes Moral PSP di dunia kontemporer. Para penggemarnya bisa dengan asik bernostalgia. Tapi bagaimana dengan anak muda? katakanlah mahasiswa yang menonton film ini, yang belum pernah mendengar PSP sebelumnya? Film ini di mata mereka hanya akan bertindak sebagai hiburan, dengan kelakuan-kelakuan yang relatable, punya sedikit pesan moral. Ini sesungguhnya bukan hal yang buruk, melainkan prestasi yang lumayan. Hanya saja lampu moral tersebut mestinya bisa dipancarkan lebih kuat lagi. Aku tidak merasa ada banyak yang diwariskan oleh PSP kepada mahasiswa masakini lewat film ini. Mungkin ini memang bukan film yang ke arah sana, tapi membuat anak muda berpikir mereka benar, dan dunia salah karena telah berprasangka seperti suatu pengajaran yang baru setengah langkah.


Leave a Comment