Berjalan Seru dan Menyenangkan Mahasiswi Baru (2019)

Sebuah kejadian traumatis mengakibatkan hubungan Anna dengan ibunya Lastri renggang dan canggung. Di tengah kesedihannya Lastri yang berusia 71 tahun pun memutuskan untuk mendaftar jadi mahasiswi dan berkuliah di Universitas Cyber Indonesia. Sebuah keputusan yang aneh dan motivasinya baru terjawab di puncak film.

Jalan Lastri menjadi mahasiswi terasa berat akibat stigma keanehan nenek-nenek menjadi mahasiswa dan dekan Chaerul Umam yang strict dan menganggap Lastri tidak pantas menjadi mahasiswa di kampusnya dan memberikan ultimatum harus memiliki IP tinggi di semester satu. Di tengah kebingungan, Lastri ternyata mendapat dukungan teman-teman kuliahnya yaitu, Danny si selebgram lebay, Sarah pemilik bakat desain pakaian, Erfan si aktivis yang emosional dan Reva si tukang tidur yang pintar namun misterius.

Bersama-sama mereka membentuk geng dan kompak membantu Lastri menempuh kuliah semester pertama demi mendapat nilai baik. Sayangnya nilai Lastri tetap tidak cukup dan memaksa Lastri untuk mengambil hati Pak Dekan demi bisa melanjutkan kuliah. Intrik-intrik selama mendekati Pak dekan, permasalahan Lastri dengan Anna, serta terungkapnya misteri kehidupan Reva mewarnai konflik di antara member geng Lastri.

Walaupun begitu, secara keseluruhan film ini berjalan seru dan menyenangkan berkat kesegaran komedi yang dihantarkan para karakternya. Lastri yang kolot dan gagap teknologi saat mengikuti kuliah, Danny yang lebay karena sering live instagram, keheranan Anna melihat ibunya bergaul dengan anak muda, dan romansa Lastri dengan Pak Dekan yang terasa konyol dan lucu memberi kontribusi besar dalam menghibur penonton. Pengalaman Monty Tiwa dalam menerjemahkan naskah ke dalam adegan-adegan di film terasa jelas di sini. Film mengalir enak, memiliki momen penghasil gelak tawa dan momen menyentuh dengan seimbang

Sisi teknis produksi memang tidak ada keistimewaan tertentu. Ada satu adegan di pemakaman yang memberikan gambar yang cantik, namun faktor ketidaklogisan lokasi makam agaknya sedikit membuat dahi berkerut. Namun setidaknya usaha untuk mendapatkan beauty shot patut diapresiasi. Sementara sisi artistik, editing, tata rias dan busana bekerja cukup baik di dalam film, dengan tata musik menjadi yang paling unggul melalui barisan lagu latar yang sesuai dengan adegan. Aransemen baru lagu Hip-Hip Hura milik Alm. Chrisye yang ceria dan Anugerah Terindah Yang Kumiliki milik grup band Sheila On 7 adalah dua lagu yang menjadi highlight di dalam film.

Sisi akting memiliki juga menjadi bagian terbaik dalam film. Tidak ada akting yang buruk dalam film ini. Widyawati mampu keluar dari zona nyamannya memerankan nenek-nenek yang mencoba jadi anak gaul dari kelakuan, gaya bicara, gaya berpakaian, dll. Duetnya dengan Slamet Rahardjo juga menjadi salah satu bagian terbaik dalam film. Kematangan akting keduanya memberikan performa menawan dari sisi komedi dan romansa.

Sementara itu Umay Shahab dan Morgan Oey tampil menonjol mewakili para aktor muda. Keduanya tampil di luar akting biasanya. Umay tampil serius dengan celetukan yang sangat lucu dan mengena, sementara Morgan tampil konyol, berlebihan dan banyak tingkah. Sonia Elyssa sebagai pendatang baru pun bermain baik. Sementara Mikha Tambayong masih tidak bisa lepas dari karakter stereotypicalnya sebagai gadis cantik yang bersikap manis.

Di luar para pemeran utama, Karina Suwandi, Iszur Muchtar dan Ence Bagus, sang pemegang gelar sang aktor spesialis cameo, pun memberikan sokongan yang mumpuni dalam perannya yang tidak terlalu besar. Akting emosional Karina Suwandi bersama Widyawati di dalam kamar adalah momen terbaik di dalam film ini menurut pandangan penulis.

TRAILER HERE

No comments

Powered by Blogger.