Review Film Yes, God, Yes
Ditulis dan disutradarai oleh Karen Maine, Yes, God, Yes merupakan film berdurasi panjang debutan sang sineas, setelah menyutradarai film pendek di tahun 2017 yang menjadi sumber inspirasi film ini. Yes, God, Yes adalah sajian perjalanan jujur dan menghibur dari seorang remaja yang tumbuh di lingkungan Katolik dalam menjajaki seksualitasnya yang tengah berkembang.
Fokus utama film bersetting awal tahun 2000an ini adalah seorang remaja putri bernama Alice (Natalie Dyer) yang berjuang dengan perkembangan gairah seksualnya, terutama karena itu bertentangan dengan aturan ketat tentang seks dalam sekolah Katoliknya. Didorong oleh rasa bersalah atas obrolan AOL yang eksplisit secara seksual dan gosip miring antara ia dan salah satu teman sekelas prianya, Alice jadi peserta untuk retret bersama sahabat karibnya, Laura (Francesca Reale), yang dipimpin oleh Bapa Murphy (Timothy Simons). Meski berusaha sekuat tenaga menekan dorongan seksualnya, rasa penasarannya dan kedekatannya dengan salah satu pemandu kelompok. Chris (Wolfgang Novogatz) semakin intens.Akibatnya, masih harus dilihat apakah Alice akan dapat menemukan penebusan yang ia cari atau justru menemukan kedamaian dalam bentuk lain.
Melalui Yes, God, Yes Maine menyajikan gambaran yang sepenuhnya otentik tentang seorang gadis remaja yang tengah menjajaki perkembangan seksualitasnya dengan sorotan unik yang kompeten mengenai semua keanehan pengalaman wanita. Hal ini begitu kentara dari salah satu adegan, yakni saat pertamakali Alice bertemu dengan Chris, audiens yang peka pasti bisa merasakan efektivitas momen fantasi adegan itu baik melalui pergerakan kamera, focus close-up, maupun pemilihan tembang beserta liriknya yang dijadikan pengisi latar musiknya.
Momen fantasi begitu lugu dan sangat erotis pada saat yang sama, memanfaatkan langsung keinginan Alice dengan kekhususan yang sepenuhnya dapat diterima bahkan bagi mereka yang bukan gadis remaja di awal tahun 2000-an. Keaslian dan kejujuran inilah yang dibawa Maine ke keseluruhan Yes, God, Yes yang pada akhirnya menjadikan apa yang disajikan di sini menjadi lebih istimewa dari sekadar komedi seks remaja lainnya.Di sini Maine tidak melukiskan keinginan itu sebagai hal lain selain rasa ingin tahu yang alami, dan tidak mencoba melunakkannya dengan mengarahkannya menjadi komedi yang cabul. Perspektif Maine jujur dalam cara yang jarang dilakukan Hollywood dengan seksualitas remaja, seolah-olah para pembuat film harus memperlunak kejujuran mereka menjadi lebih komersial untuk membuat film lebih disukai penonton. Maine tanpa kompromi dalam penggambarannya tentang seksualitas dan keinginan Alice dan Yes, God, Yes menjadi pandangan otentik yang menyegarkan tentang kisah coming of age. Adegan konklusi yang lugas di endingnya juga makin menunjukkan keberanian sikap Maine atas filmnya ini.
Sementara Maine bekerja keras di balik layar, aktris yang sekarang paling dikenal lewat serial Stranger Things, Natalie Dyer bersinar sebagai tokoh utama Alice, dengan penampilannya yang dinamis dan apik. Menanggung beban paling krusial karena titik berat pov film, Dyer tampil meyakinkan dan mampu menghadirkan sosok karakter gadis remaja dengan segala rasa penasaran yang besar dan sifat pemberontak dan pelbagai emosi kompleks sebagaimana yang sering dijumpai pada remaja yang tengah mencari jatidirinya –terutama di tengah lingkungan yang sama sekali tidak kondusif.
Yes, God, Yes juga diuntungkan dengan performa apik para pemain pendukungnya seperti Novogratz, Reale, ALisha Boe, Donna Lynne Champlin, dan terutama Timothy Simmons yang berperan sebagai rohaniwan Katolik yang melambangkan aturan agama terhadap seks — namun secara pribadi, munafik. Menjadikan sajian konflik yang diurai di sini mengalir alami.
Pada akhirnya, Yes, God, Yes hadir solid sebagai drama yang selain menghibur, namun juga sekaligus bijaksana dan otentik tentang hasrat seksual remaja. Dan, seperti sudah disinggung di atas, dengan perbandingan stereotip kebanyakan film drama komedi seks remaja lainnya, ini adalah film langka yang mengangkat subjek semacam ini.
Sebagai hasilnya, Yes, God, Yes adalah tontonan sempurna bagi siapapun yang tengah mencari film komedi seks menyenangkan namun juga sekaligus memberikan gambaran jujur pengalaman seorang remaja. Tidak hanya memikat, film Maine juga sangat menghibur, dan mengeksplorasi premisnya dalam tempo 78 menit yang rapi dan cepat (film langka di bawah 90 menit).
Bagi mereka yang masih tinggal di rumah, Yes, God, Yes memberikan gangguan yang sangat baik tanpa merasa terlalu panjang. Ini mungkin pengalaman film musim panas yang relatif lebih tenang, tetapi memberikan pelarian yang diperlukan dan memberikan banyak tawa. Pada akhirnya, Yes, God, Yes adalah komedi / drama seks remaja yang sangat lucu dan otentik yang pasti akan memikat penonton.
Semua agama selalu mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu, salah satunya nafsu seksual. Seks seakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, meski kenyataannya, hal tersebut merupakan salah satu bagian pada tubuh dan hidup kita yang natural.
Film diawali dengan penjabaran singkat dari nilai-nilai tersebut, membawa kita pada situasi Alice yang beragama Katolik dengan ajarannya. Sangat tepat menaruh statement tersebut pada permulaan film. Hal ini untuk memberikan patokan awal atau standard salah dan benar di mata agama.
Hingga akhirnya kita memasuki babak dimana Alice menghadapi hawa nafsu seksualnya secara tidak sengaja. Mungkin beberapa dari kita juga pernah merasakan kegelisahan yang sama di kala remaja. Inilah salah satu keunggulan dari “Yes God Yes”; memiliki ide cerita yang relevan dengan penonton. Isu ini juga mungkin banyak dialami oleh remaja Indonesia dan belum ada film lokal dengan materi seperti ini.
Agama merupakan materi yang cukup sensitif. Salah-salah naskah yang ditulis bisa merendahkan ajaran agama tertentu meski secara tidak sengaja. “Yes, God, Yes” sama sekali tidak memberikan statement jelas tentang ‘ini yang benar dan ini salah’, hanya memberikan sebuah pencerahan baru yang bisa memberikan dampak berbeda pada setiap penontonnya. Setiap penonton pasti memiliki keyakinan dan prinsip yang berbeda. Dibutuhkan pikiran terbuka untuk bisa menangkap pesan yang hendak disampaikan melalui film ini.
Oleh karena itu, sebuah pilihan yang tepat untuk tidak memberikan narasi seperti film drama remaja pada umumnya. Kita sebagai penonton hanya bisa mengobservasi dan menarik kesimpulan sendiri, bahkan tanpa intervensi pendapat dari karakter utama yang memposisikan diri sebagai pihak yang harus didukung dan dibenarkan pemikirannya.
Setiap agama mengajarkan hal yang baik dan manusia tak pernah lepas dari dosa. Namun, apakah merasakan hasrat seksual sebagai proses pendewasaan fisik dan psikis merupakan sebuah hal yang salah? “Yes, God, Yes” telah menyajikan isu yang selama ini mungkin bersembunyi dalam batin kita dan memberikan pencerahan baru dengan komposisi yang tepat.


Leave a Comment