Review Film Sebelum Iblis Menjemput 2

 

Adegan dalam film disajikan dengan tempo yang sangat ketat. Kengerian serta ketegangan dalam film seakan “menggempur” jiwa penonton secara terus-menerus. Kendati demikian, film ini tetap menghadirkan warna komedi di beberapa adegannya. Tidak hanya itu, Tjahjanto pun menghadirkan jalan cerita dan teknik penceritaan yang berbeda dari film horror pada umumnya.

Alfie (Chelsea Islan) dan Nara (Hadijah Shahab) harus kembali bertempur dengan pasukan iblis. Alih-alih terbebas dari teror, Alfie dan Nara diculik oleh sekumpulan orang tak dikenal. Mereka berpendapat bahwa Alfie merupakan sosok “tangguh” yang mereka cari. Hal ini bukan tanpa alasan, mereka membutuhkannya untuk membantu melepas teror iblis yang menggangu mereka.

Gadis (Widika Sidmore), Budi (Baskara Mahendra), Kristi (Lutesha), Leo (Arya Vasco), Jenar (Shareefa Daanish) dan Martha (Karina Salim) menjelaskan kepada Alfie bahwa hanya dirinyalah yang dapat menjalankan ritual agar mereka terbebas dari sosok Ayub.

Ayub merupakan bapak angkat sekaligus pengasuh yang mati terbakar di panti asuhan semasa mereka kecil. Ia juga pengikut iblis yang sama seperti ayah Alfie.

Melihat penderitaan yang sama dengan dirinya, Alfie pun setuju untuk membantu mereka. Ritual dan mantra dibacakan sesuai arahan Martha. Bukan terlepas dari kutukan, ritual ini justru membangkitkan sosok Ayub secara utuh.

Alfie dan Nara pun akhirnya harus terlibat dalam pertempuran tersebut. Tak hanya Ayub, mereka juga harus berhadapan dengan sosok iblis Molokh yang telah mengincarnya sedari dahulu. Sosok iblis yang siap untuk menjemput nyawa mereka.

Pemilihan tema dalam film ini terkesan segar dan berbeda dari film horror pada umumnya. Pasalnya, jika berkaca pada dunia perfilman horror Indonesia, hantu yang diangkat terbatas hanya pada mitologi tradisional yang ada di Indonesia. Unsur satanik Molokh seakan menjadi tonggak baru sekaligus menandakan berkembangnya industri film horror di Indonesia.

Adegan ritual yang ditampilkan pun dibuat meyakinkan dengan pemunculan gambar serta simbol-simbol satanik. Tak hanya itu, jalan cerita dalam film ini pun dibuat sejalan dengan kisah mitologi Molokh sebagai iblis yang membutuhkan pengorbanan anak-anak. Unsur satanik dalam film tidak hanya berperan sebagai pemanis, namun sebagai benang merah dari film sebelumnya.

Tak dapat dimungkiri bahwa unsur sinematografi memiliki andil yang besar dalam Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2. Dalam film ini, pengambilan gambar dibuat simpel,tetapi tegas. Pemilihan warna dalam film cenderung redup, seakan menambah kesan horror dan kelam. Pemilihan warna kostum hingga warna latar film didominasi dengan warna gelap.

Transisi adegan dalam film dibuat seminim mungkin. Perpindahan dari satu adegan ke adegan lainnya disajikan tanpa ada teknik fade out, melainkan dengan mengubah kontras warna latar seperti pengubahan latar siang ke malam. Hal ini tentunya akan terasa sedikit tidak nyaman di mata penonton mengingat pengubahan warna yang kontras secara langsung.

Teknik transisi ringkas dirasa cerdas mengingat konsep tempo alurnya yang padat. Layaknya mengulang kesuksesan pada film Rumah Dara (2010), Timo agaknya mencoba formula yang sama pada film ini.

Teror ketegangan  tersaji dibuat secara terus-menerus tanpa ada jeda. Bedanya, pada film ini, Timo menyisipkan sedikit komedi. Hal ini tentunya membuat benak penonton seakan dipermainkan.

Selain pada penyajian teror yang secara terus-menerus, ketegangan yang muncul dalam film juga dibuat sangat rapi. Penulisan jalan cerita dibuat sangat mendetail, sebab-akibat adegan di dalam film diberikan secara lengkap. Hal ini membuat film ini kuat secara penceritaan dan tetap tidak mendiskreditkan para penonton yang belum menyaksikan film sebelumnya.

Motivasi Alfie masuk ke geng anak panti yang semuanya cakep sebenarnya perlu digali lebih dalam. Ini jadi sangat penting karena bakal menentukan kelangsungan plot. Bayangkan kalau Alfie memilih kabur dan jalan kaki pergi dari rumah anak-anak panti itu, film ini nggak bakal ada.

Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 adalah film yang saat kita menghilangkan tokoh utama, maka ceritanya masih bisa jalan. Jalan cerita Alfie bisa saja ditransformasikan ke siapa pun anak panti.

Tokoh utama bisa diganti tanpa melibatkan apa pun dari film sebelumnya. Misalnya Budi (Baskara Mahendra) atau Jenar (Shareefa Danish) yang jadi ‘orang terpilih’ buat melawan iblis. Tapi kan ini sekuel, jadi harus ada Alfie dan adiknya Nara.

No comments

Powered by Blogger.