Buciin Kamu! Film Bucin

Cerita film sebenarnya sederhana tetapi bisa menjadi menarik karena menangkap istilah Bucin yang tengah ramai digunakan. Dan bisa dibilang menangkap sebuah fenomena dalam suatu hubungan di era digital.

Setelah menonton sampai habis, saya tidak merasakan ada yang menarik dari film bergenre drama komedi ini. Pun cerita yang seharusnya menarik dan memancing tawa justru membosankan dan garing alias tidak lucu.

Nampaknya film ini sudah bermasalah sejak awal, berpusat pada naskah yang ditulis Jovi. Naskah yang ia tulis seperti belum utuh, belum matang dan kurang jelas apa yang mau dituju.

Seperti yang sudah dibahas sedikit di atas, fokus utama dari film ini berada pada empat orang sahabat yang memiliki sikap bucin terhadap pasangannya. Andovi da Lopez yang selalu tunduk atas kemauan pacarnya, Tommy Limmm yang merelakan hasratnya demi kepentingan sang tunangan, serta Jovial da Lopez yang mulai jenuh dalam hubungan asmaranya. Oh ya, satu lagi ada Chandra Liow yang sebenarnya hanya seorang jomlo.

Mereka kemudian memutuskan untuk mengikuti kelas Anti-Bucin supaya bisa menjalani sebuah hubungan asmara yang jauh lebih dewasa. Namun, ternyata kelas yang dipimpin oleh seorang cewek bernama Vania (Susan Sameh) tersebut memiliki metode yang cukup ekstrem untuk mengatasi tingkat bucin mereka. Mulai dari dibius hingga dikurung dalam sebuah ruangan.

Tak cuma itu, hubungan asmara dari masing-masing cowok tersebut justru malah semakin runyam dan berada di ujung tanduk. Bahkan, persahabatan antara keempatnya pun renggang karena mengikuti kelas tersebut.

Well, sebenarnya film ini bisa dibilang menggambarkan situasi orang bucin di dunia nyata dengan cukup baik serta bagaimana dampak dari ke-bucin-an tersebut terhadap kerabat terdekat. Sayangnya, naskah dari film ini digarap dengan kurang matang sehingga pembangunan plotnya tidak rapi. Bahkan, ada beberapa adegan yang rasanya enggak terlalu penting buat ditampilkan.

Untungnya, jalan cerita yang kurang matang tersebut agak tertolong sedikit dengan sebuah plot-twist yang ada di bagian akhirnya. Soalnya, penonton kemungkinan besar enggak ada yang menduga kalau plot-twist tersebut akan muncul sepanjang filmnya. Kalau kalian mau tahu bagaimana plot-twist tersebut, langsung saja nonton film Bucin di Netflix.

Pemain yang ada dalam film ini didominasi oleh aktor yang sebenarnya lebih dikenal di ranah YouTube atau biasa disebut Youtuber. Meski begitu, ini bukanlah proyek film pertama yang melibatkan para Youtuber, seperti Andovi da Lopez, Jovial da Lopez, Chandra Liow, serta Tommy Limmm sebagai seorang aktor.

Dari segi komedi, kemampuan berakting mereka bisa dibilang bagus karena tingkah konyol keempatnya masih mampu mengundang gelak tawa. Namun, kalau adegannya sudah mulai bernuansa emosional, kemampuan akting mereka masih belum lepas dari image-nya di YouTube.

Hasilnya, jadi kurang berkesan jika dibandingkan aktor umumnya. Emosi yang ditampilkan lewat ekspresi mereka rasanya masih kurang mampu membuat penonton ikut terbawa emosi.

Akting yang terasa ekspresif dan natural justru ada di pemeran wanitanya, seperti Karina Salim yang berhasil tampil manja sebagai tunangan Tommy serta Widika Sidmore selaku pacar Andovi yang judes. Lalu, enggak ketinggalan juga Susan Sameh yang berhasil memerankan ‘guru’ kelas Anti-Bucin dengan elegan. Akting dari Susan pun apik terutama pada bagian plot-twist di akhirnya.

Buat kalian yang suka film dengan komedi receh, film ini mungkin bisa menjadi alternatif tontonan kalian. Soalnya, kalian bakal disajikan dengan banyak momen komedi receh sejak awal hingga akhir filmnya. Kalian yang punya selera humor receh dijamin bakal dibuat tertawa lewat sejumlah candaan yang ada dalam film ini.

Namun, film ini enggak cuma menjual unsur komedi aja di dalamnya. Sebab, setelah nonton film Bucin kalian bakal mendapatkan beberapa pesan moral tentang menjalani hubungan asmara yang baik dan benar dengan pasangan. Selain itu, lewat film ini kita juga ditampilkan dengan bagaimana dampak bagi orang di sekitar kalau kita bersikap terlalu bucin.

Hal yang paling patut diacungi jempol dari film ini merupakan gaya penyutradaraannya. Chandra Liow bisa dibilang sukses meninggalkan kesan yang positif dan mencuri perhatian lewat debutnya sebagai seorang sutradara dalam film ini. Pewarnaan dari setiap adegan yang ada dalam film ini terasa sangat pas dengan momennya dan juga memanjakan mata.

Selain itu, hal yang paling mencuri perhatian mungkin terletak di gaya transisi antaradegan yang ada pada film ini. Enggak cuma itu, beberapa momen komedinya juga terasa lebih lucu berkat gaya penyutradaraan Chandra yang bisa dibilang komikal pada beberapa adegan. Kesuksesan Chandra di film ini bisa menjadi sebuah ‘modal’ untuk kembali menjadi sutradara di proyek film lainnya.

Awalnya mereka tidak ingin mengikuti kelas bucin karena merasa tidak butuh, namun akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti kelas itu. Ternyata kelas tak berjalan sempurna dan menghancurkan pertemanan mereka.

 

No comments

Powered by Blogger.