Permainan Oray-orayan
Pemberian nama pada sesuatu tentu memiliki maksud tertentu. Orang Jawa mempunyai istilah asma kinarya japa, bahwa suatu nama adalah suatu doa. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika ada anak yang sering sakit-sakitan kemudian diganti na- manya agar sembuh. Demikian halnya de- ngan penamaan suatu tempat, umumnya dikaitkan dengan mitos kosmogoni, yakni mitos asal-usul tempat tersebut. Nama- nama daerah di Jawa Barat yang umumnya berawalan ‘Ci’ seperti Cihideung, Cibiru, Cimahi, Cicalengka, dan seterusnya, tentu memiliki latar belakang dan maksud ter- tentu pula. Berdasarkan pemahaman terse- but, maka penamaan Oray-orayan tentu me- miliki maksud tertentu.
Penamaan permainan Oray-orayan nam- paknya didasari oleh wujud permainan- nya yang menyerupai ular. Hal inilah yang menjadi pijakan Atmadibrata (1980/1981: 93-98) mengartikan permainan Oray-orayan sebagai permainan meniru ular. Definisi ini tentu kurang komprehensif karena wa- laupun meniru ular, namun yang ditiru hanyalah bentuk dan gerakan ular. Esensi permainan yakni ular memakan ekornya, tidak ada dalam kenyataan yang sesungguhnya. Hal ini tentu memiliki makna tersembunyi.
Pilihan ular sebagai media permainan kiranya juga memiliki tujuan tertentu. Ular secara umum dianggap sebagai binatang yang berbahaya karena bisanya memati- kan, namun sekaligus binatang mitologi yang dipuja karena berkait dengan keber- langsungan hidup. Bermain Oray-orayan dengan demikian adalah memainkan peran sebagai binatang mitologi sekaligus bina- tang dalam arti yang sesungguhnya. Arti- nya Oray-orayan menyatukan dunia mitos (dunia para dewa, leluhur) dengan dunia yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Oray-orayan merupakan wujud penyatuan dunia mitos dengan dunia manusia yang melahirkan ‘kehidupan baru’. Oray-orayan dengan demikian adalah sebuah ritus yang dikemas dalam permainan untuk anak. Me- ngapa untuk anak? Anak memiliki dimensi kesucian, polos, jujur apa adanya. Hal ini sejalan dengan syarat ritus pada umum- nya, bahwa yang boleh menjadi perantara adalah mereka yang dianggap masih suci.
Ular dalam Mitologi
Ular atau naga dalam mitologi di ber- bagai negara Asia hampir selalu dimaknai sebagai air (periksa Snodgrass, 1985: 292- 294). Ular juga lambang kekuatan suprana- tural, kebijaksanaan, kebebasan, kekuatan, pengetahuan tersembunyi (Cooper, 1978: 55). Hal inilah yang kemudian menjadikan ular atau naga menjadi bagian ritus dari berbagai budaya suku.
Bagi masyarakat Tionghoa, naga adalah binatang mitologi yang hampir menda- sari hidup dan kehidupannya. Oleh sebab itu,ikon naga selalu muncul dalam segala segi kehidupan masyarakat Tionghoa dan telah bertahan berabad-abad, seperti pada busana, peralatan rumah tangga, bangun- an, teori fengshui, pemerintahan, festival, kepercayaan, dan ritual
Artefak budaya berbentuk ular di kera- ton Jogjakarta dan percandian Jawa Tengah dan Jawa Timur juga menunjukkan peran penting binatang mitologi tersebut. Di kera- ton Jogjakarta, artefak berbentuk naga dapat dilihat pada kronograf (sengkalan memet), benda upacara, dan benda hias lainnya. Menurut Sunaryo (2013:179-181) motif hias naga pada tiga buah sengkalan memet (Dwi Naga Rasa Tunggal, Catur Naga Rasa Tunggal dan Pandhita Cakra Naga Wani), motif hias naga pada Hardawalika (benda upacara), motif naga bersama simbol kerajaan di atas buffet yang ada dalam museum HB IX, dan moitf hias naga bersayap pada salah satu jempana masa HB VII,menunjukkan bahwa secara simbolik motif hias naga di keraton tersebut memiliki makna kesucian, kesu- buran, dan kekuasaan atas suatu wilayah.
Pentingnya binatang mitologi ular di Jawa juga nampak jelas pada penempatan ornamen naga pada bangunan candi. Di komplek candi Panataran di Jawa Timur terdapat candi naga, satu-satunya candi di Indonesia yang bagian tubuh candinya di- belit oleh ular besar. Candi ini merupakan tempat raja dalam wujud sebagai inkar- nasi dewa yang dikukuhkan penyatuannya dengan dewa melalui meditasi. Hal ini menujukkan bahwa, ular adalah penghubung dunia manusia de- ngan dunia dewa.
Ragam hias naga pada candi Borobu- dur dan Prambanan juga menunjukkan bahwa naga adalah lambang kebijaksanaan dan kekekalan, simbol atman/jiwa, penjaga kekayaan candi, penghubung dunia bawah dan atas, lambang dunia bawah/perem- puan, dan kekuatan magis (periksa Wiwit Kasiyati, Sutanto, Sugiyono, dan Wagiman, 2006). Fungsi naga sebagai simbol tangga naik turun manusia dari dunia manusia ke dunia spiritual ini nampak pula pada artefak gunungan wayang kulit purwa, yakni naga melilit pohon hayat (Sumardjo, 2006:209), seperti terlihat pada gambar 4.
Selain artefak yang bersifat material, pentingnya ular sebagai lambang peran- tara dunia bawah dengan dunia atas juga terdapat dalam artefak yang intangible, yak- ni kisah Dewaruci, cerita wayang asli Jawa walaupun tokoh-tokohnya bersumber dari Mahabarata. Dalam cerita tersebut dikisah- kan untuk bisa menemukan air suci, Bhima harus masuk ke dalam samodra. Ketika masuk ke dalam lautan, Bhima diserang seekor ular. Setelah ular dikalahkan, Bhima menemukan apa yang dicarinya (pengeta- huan sejati) dari Dewaruci. Pengetahuan itu didapat setelah Bhima masuk ke dalam tubuh Dewaruci, sosok kecil sebesar keling- kingnya yang wujudnya persis sama dengan dirinya. Cerita ini menunjukkan bahwa ular adalah simbol air, dunia bawah, dan peran- tara menuju dunia atas sebagaimana fungsi ornamen ular di setiap gerbang tingkatan komologis candi di Borobudur (Kamadha- tu, Rupadhatu, dan Arupadhatu) dan candi Prambanan (Bhurloka, Bhuwarloka, dan Swarloka).
Ular bagi masyarakat Sunda kuno juga merupakan bagian dari ritus kesuburan dan penghubung ke dunia atas. Hal ini nampak dari jejak peradaban Sunda Kuno di situs batu naga yangterletak di puncak Gunung Tilu, Dusun Banjaran, Desa Jabranti, Keca- matan Karangkencana, Kabupaten Kuni- ngan, Jawa Barat. Walaupun namanya batu naga, namun naga yang diukir dalam batu monolit tersebut bukan ular berkaki (lihat gambar 6). Peninggalan megalitikum ber- wujud naga yang mungkin satu-satunya di Jawa Barat ini, diyakini berasal dari masa prasejarah sekitar tahun 500 SM. Adapun ukirannya dibuat masa Sunda Kuno di seki- tar abad 14-15 M saat Majapahit masih ber- jaya. Mengacu pada letaknya di ketinggian, arkeolog Universitas Indonesia Ali Akbar menduga bahwa pada masa megalitikum
tempat tersebut digunakan untuk pemujaan arwah leluhur. Pada masa Sunda Kuno berubah menjadi tempat para resi dan pen- deta menyepi dan melepaskan dari agama Hindu dan Budha yang merupakan dua agama utama pada masa itu (Samantho, 2014). Bila asumsi ini benar, maka semakin meneguhkan tesis bahwa ular bagi masyara- kat Sunda Kuno juga sebagai penghubung ke dunia atas. Hal ini dikarenakan menyepi bagi resi dan pendeta artinya bukan hanya menjauhkan dari keramaian secara fisik, namun juga laku meditasi, untuk masuk ke alam ke-Illahian. Berdasarkan pemahaman ini, pilihan binatang ular dalam permainan Oray-orayan menunjukkan ular menempati posisi penting dalam masyarakat Sunda.
Selain batu naga, artefak ular sebagai manifetasi ritus kesuburan juga masih bisa dilihat saat ritus ngahuma pada masyarakat Kanekes, yakni ‘tali naga’. Ngahuma (ber- ladang) bagi masyarakat Kanekes adalah salah satu wujud pemujaan kepada Nyi Pohaci. Menurut Jamaludin, proses tanam padibagi masyarakat Baduy adalah simbol menikahkan Nyi Pohaci (simbol perem- puan) dengan bumi (ladang, simbol laki- laki). Sebagai simbol laki-laki, di tengah huma terdapat pupuhan, yakni bujur sang- kar berdiameter kurang lebih satu meter yang setiap sudutnya diberi tiang setinggi satu meter. Pada tiang inilah ‘tali naga’ diikatkan (Jamaludin, 2012: 1, 5). Posisi ‘tali naga’ yang ada di pusat huma (pupuhunan)
menunjukkan bahwa ular bukan hanya sebagai simbol air dan kesuburan, namun juga perantara turunnya Nyi Pohaci. Per- nyataan ini cukup mendasar karena Nyi Pohaci atau Dewi Sri erat kaitannya dengan Çri, istri Vishnu. Çri dan Vishnu yang dalam kehidupan berperan sebagai Dewi Kesu- buran/Kemakmuran dan Dewa Kekayaan/ Kesejahteraan (Wojowasito, 1976:62). Diki- sahkan, bahwa selama musim hujan, Vishnu tidur di atas naga besar, dan karena itulah naga dimitoskan sebagai ciri-ciri kesuburan. Berangkat dari mitologi Hindu ini nampak jelas, bahwa ‘tali naga’ dalam puhunan erat kaitannya dengan ‘kehadiran’ Vishnu. Salah satu artefak keterkaitan ular de- ngan Dewi Sri dalam konteks budaya Jawa dapat dilihat dalam tokoh Dewi Sri dalam wayang kulit purwa. Tokoh ini digambar- kan berdiri dengan ular di kakinya.
Makna Permainan
Inti permainan Oray-orayan adalah ke- pala ular menangkap ekornya. Inti per- mainan ini identik dengan simbol Ouroboros atau Uroborus. Ouroboros merupakan sim- bol kuno yang menggambarkan seekor ular atau naga yang memakan ekornya sendiri. Simbol ini melambangkan refleksi diri atau siklus, terutama sesuatu yang bermakna melambangkan ide kesatuan primordial yang terkait dengan sesuatu yang ada atau bertahan sebelum permulaan. Ouroboros telah menjadi simbol agama dan mitologis yang penting di dunia. Dalam Gnostisisme, Ouroboros melambangkan keabadian dan jiwa dunia. Makna simbol Ouroboros di atas nam- paknya selaras dengan makna pola per- mainan Oray-orayan. Bentuk dasar permain- an Oray-orayan adalah ular. Pola permainan dasarnya adalah kepala ular menangkap ekor ular. Puncak permainannya adalah jikakepala ular berhasil menangkap/me-
makan ekornya.
Kepala ular adalah besar, dan ekor ular kecil. Besar dan kecil ini bisa diibaratkan jagad besar dan jagad kecil. Jagad besar adalah semesta dan jagad kecil adalah diri manusia. Kepala ular makan ekornya, de- ngan demikian berarti menyatunya jagad besar dengan jagad kecil. Pola ini berdimensi awal-akhir, sangkan-paran (dari mana-kema- na). Intinya, manusia harus memiliki kesa- daran spiritual bahwa keberhasilan hidup adalah jika mampu kembali ke ruang asal, menyatu dengan Tuhan. Oleh sebab itu, upaya kepala ular menangkap ekornya adalah bentuk simbolik upaya refleksi diri, menangkap ‘diri dalam’- nya sendiri (inner self), bahwa di dalam pusat diri bersema- yam dzat Tuhan. Keberhasilan menangkap ekor adalah keberhasilan hamba menyatu dengan Tuhannya.
Ular menangkap ekornya sendiri dalam Oray-orayan nampaknya sejalan pula de- ngan pandangan masyarakat Bali. Menurut Paramadyaksa (2009: 69), ada dua elemen penting dari naga dalam perspektif budaya Bali, yakni ekor dan mulut naga. Ekor naga diinterpretasikan sebagai air bersih alami yang berasal dari pegunungan, sedangkan mulut naga yang menganga dengan taring beracun adalah simbul hilir yang telah me- ngandung limbah. Berpijak dari pandangan ini, momentum kepala ular menangkap ekornya sendiri adalah momentum kem- balinya ke sumber air, sumber kehidupan, dzat yang Maha Tinggi.
Ular menangkap ekornya sendiri dalam Oray-orayan juga identik dengan cerita Dewaruci yang telah dipaparkan di atas. Bhima (bertubuh besar) masuk ke dalam tubuh Dewaruci (‘diri dalam’nya Bhima, inner self) yang besarnya sekelingking Bhi- ma. Bhima identik kepala ular dalam Oray- orayan, dan Dewaruci identik dengan ekor ular tersebut. Momentum Bhima masuk ke dalam dirinya (Dewaruci) adalah identik dengan kepala ular menangkap ekornya.
Ekor ular adalah bagian terkecil dari struktur tubuh ular. Ujung ekor yang ke- cil ini jika dilanjutkan akan semakin kecil, menjadi titik dan akhirnya lenyap, kosong, tiada, namun isi (keberadaannya ada). Momentum menangkap ekor adalah keberha- silan menangkap ketiadaan sekaligus yang ada, kosong namun isi. Tuhan itu ada, na- mun wujudnya tidak ada.
Mengapa jika ekor tertangkap oleh ke- pala ular permainan berhenti dan permain- an bisa dilanjutkan lagi dengan mengganti ekor yang baru? Penghentian sementara permainan ini merupakan bentuk simbolik, bahwa refleksi diri sesorang akan awal-akhir hidupnya harus dilakukan terus menerus.
Berpijak dari paparan di atas, nampak bahwa kaulinan barudak Oray-orayan me- milki makna yang mendalam, makna yang berdimensi spiritual. Permainan ini mengandung pesan bahwa orang hidup harus selalu mawas diri, melihat diri dalamnya sendiri, karena dalam mawas diri ada garis vertikal dan horisontal yang menghubung- kan dirinya dengan Tuhan dan sesama makhluk. Mawas diri yang sempurna akan menghasilkan pribadi yang apa adanya, sebagaimana kepribadian Bhima.

Leave a Comment