Manusia Sebagai Animal Educandum


A.    Pendidikan hanya untuk manusia
Manusia sebagai animal educandum, secara bahasa berarti bahwa manusia merupakan hewan yang dapat dididik dan harus mendapatkan pendidikan. Dari pengertian tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara manusia dengan hewan. Perbedaan manusia dengan hewan, ialah bahwa manusia dapat dididik dan harus mendapatkan pendidikan.
M.J. Langeveld yang memandang manusia sebagai 'animal educandum' yang mengandung makna bahwa manusia merupakan mahkluk yang perlu atau harus dididik. Manusia merupakan makhluk yang perlu di didik, karena manusia pada saat dilahirkan kondisinya sangat tidak berdaya sama sekali. Seorang bayi yang baru dilahirkan, berada dalam kondisi yang sangat memerlukan bantuan, ia memiliki ketergantungan yang sangat besar. Padahal nanti kelak kemudian hari apabila ia telah dewasa akan mempunyai tugas yang besar yakni sebagai khalifah dimuka bumi. Kondisi seperti ini jelas sangat memerlukan bantuan dari orang yang ada disekitarnya. Bantuan yang diberikan itulah awal kegiatan pendidikan. Sesuai dengan tugas yang akan diembannya nanti dikemudian hari, dibalik ketidakberdayaan atau ketergantungan yang lebih dari binatang. Hanya kemampuan-kemampuan tersebut masih tersembunyi, masih merupakan potensi-potensi yang perlu dikembangkan. Disinilah perlunya pendidikan dalam rangka mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut, sehingga menjadi kemampuan nyata. Dengan bekal berbagai potensi itulah manusia dipandang sebagai mahkluk yang dapat di didik. Bertolak dari pandangan tersebut, secara implicit terlihat pula bahwa tidak mungkin manusia dipandang sebagai mahkluk yang harus di didik, apabila manusia bukan mahkluk yang dapat di didik.
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itulah timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan (Arifin, 2006:1), oleh karena itu dalam sejarah pertembuhan masyarakat, pendidikan senantiasa jadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi sejalan dengan tuntutan masyarakat. Menurut keyakinan kita, sejarah pembentukan masyarakat dimulai dari keluarga adam dan hawa sebagai unit terkecil dari masyarakat dimuka bumi ini. Dalam keluarga tersebut telah dimulai proses kependidikan umat manusia, meskipun dalam ruangh lingkup terbatas sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Dasar minimal usaha mempertahankan hidup manusia terletak pada tiga orientasi hubungan manusia, yaitu :
1.      Hubungan manusia dengan Tuhan YME
2.      Hubungan manusia dengan sesama manusia
3.      Hubungan manusia dengan alam sekitar.
Dari prinsip hubungan inilah, kemudian manusia mengembangkan proses pertumbuhan kebudayaan, proses inilah yang mendorong manusia ke arah kemajuan hidup sejalan dengan tuntutan zaman. Untuk sampai kepada kebutuhan tersebut, diperlukan satu pendidikan yang dapat mengembangkan kehidupan manusia dalam dimensi daya cipta, rasa dan karsa masyarakat beserta anggota anggotanmya.
Ketiga daya tersebut, kakan menjadi motivasi bagi manusia untuk saling berpacu, sehingga keberadaannya pendidikan akan menjadi semakin penting, bahkan pendidikan merupakan kunci utama kemajuan hidup umat manusia dalam segala aspek.
Pandangan Pendidikan Tentang Manusia sebagai Animal Educandum ialah pandangan Pendidikan tentang Hakekat manusia sebagai makhluk yang secara biologis fisik atau jasmaniah tidak jauh beda dengan hewan, tetapi dapat membedakan dirinya dengan hewan dengan melakukan usaha yang bersifat pendidikan (Saifullah, 1982:14  ). Berdasarkan pandangan tersebut, manusia akan berasumsi pada ketentuan ketentuan berikut :
1.    Mengapa Manusia Harus Di Didik / Mendidik
Sebagai “anak didik” dalam ilmu pendidik tidak terlepas kaitannya dengan sifat ketergantungan seseorang anak terhadap pendidik tertentu. Seseorang anak disebut anak didik apabila ia menjadi tanggung jawab pendidik tertentu. Sebutan anak didik harus dikait dengan seorang pendidik tertentu. Dan pendidik yang dimaksud disini adalah seorang yang bertanggung jawab terhadap pendidikan si anak-anak yang dimaksud adalah anak yang mempunyai sifat ketergantungan kepadanya (pendidik.
Menurut Langeveld, anak didik adalah anak atau orang yang belum dewasa atau belum memperoleh kedewasaan atau seseorang yang masih menjadi tanggung jawab seorang pendidik tertentu anak didik tersebut adalah anak yang memiliki sifat ketergantungan kepada pendidiknya itu, karena ia secara alami tidak berdaya ia sangat memerlukan bantuan pendidikannya untuk dapat menyelenggarakan dan melanjutkan hidupnya baik secara jasmani maupun secara rohani. Maka dari itu ditinjau dari Dasar Biologis. Pendidikan adalah perlu karena anak manusia dilahirkan tidak berdaya :
1.      Anak manusia di lahirkan tidak dilengkapi insting yang sempurna untuk dapat menyesuaikan diri dalam menghadapi lingkungan.
2.      Anak manusia perlu masa belajar yang panjang sebagai persiapan untuk dapat secara tepat berhubungan dengan lingkungan secara konstruktif.
3.      Awal pendidikan terjadi setelah anak manusia mencapai penyesuaian jasmani atau mencapai kebebasan fisik dan jasmani.
Manusia adalah subjek pendidikan dan sekaligus pula sebagai objek pendidikan, subagai subjek pendidikan manusia (khususnya manusi dewasa) bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan secara moral berkewajiban atas perkembangan pribadi anak anak mereka, generasi penerus, manusia dewasa yang berfungsi sebagai pendidik bertanggung jawab untk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai nilai yang dikehendaki manusia dimana pendidikan berlangsung. Sebagai objek pendidikan, manusi (khususnya anak) merupakan sasaran pembinaan dalam melaksanakan pendidikan, yang pada hakekatnya ia memilki pribadi yang sama seperti manusia dewasa, namun Karena kodratnya belum berkembang (Sadullah, 2001: 80).
Proses pendidikan merupakan interaksi pluralistis antara manusia dengan manusia, dengan lingkungan alamiah, social dan cultural akan sangat ditentukan oleh aspek manusianya. Kedudukan manusi sebagai subjek dalam masyarakat dan di alam semesta ini memiliki tanggung jawab besar dalam mengemban amanat untuk membina dan mengembangkan manusia sesamanya. Memelihara lingkungan hidup bersama lebih jauh manuis bertanggung jawab atas martabat kemanusiaanya.
Dalam eksistensinya manusia mengemban tugas untuk menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita-citakan. Sebab itu, sosok manusia ideal tersebut belum terwujudkan melainkan harus diupayakan untuk diwujudkan (prinsip idealitas). Manusia sebagai Makhluk yang perlu dididik (Animal Educandum) dan dapat dididik (Animal Educabile).
Manusia adalah makhluk Allah SWT, sebagai kesatuan badani-rohani, manusia hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran (consciousnesss), memiliki penyadaran diri (self-awareness), mempunyai berbagai kebutuhan, instink, nafsu, serta mempunyai tujuan. Manusia mempunyai potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki potensi untuk berbuat baik dan untuk berbuat jahat; memiliki potensi untuk mampu berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa), potensi berkehendak (karsa), dan potensi untuk berkarya. Dimensi eksistensi manusia meliputi individualitas/ personalitas, sosialitas, moralitas, keberbudayaan dan keberagamaan. manusia adalah individual/ personal, adapun karakteristiknya bahwa manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik, dan merupakan subjek yang otonom, serta berada dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Menurut Kant dalam teori pendidikannya (Henderson, 1959). "Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan", Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil studi M.J. Langeveld yang memberikan identitas kepada manusia dengan sebutan Animal Educandum (M.J. Langeveld, 1980).
Terdapat tiga prinsip antropologis yang menjadi asumsi perlunya manusia mendapatkan pendidikan dan perlunya manusia mendidik diri, yaitu:
1.      prinsip historisitos
2.      prinsip idealitas, dan
3.      prinsip posibilitas/aktualitas.
2.    Mengapa manusia dapat dididik/mendidik
konsep hakikat manusia Berdasarkan lima prinsip antropotogis yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu :
1.      prinsip potensialitas
2.      prinsip dinamika,
3.      prinsip individualitas,
4.      prinsip sosialitas, dan
5.      prinsip moralitas.
Anak dilahirkan tak berdaya tapi mempunyai potensi untuk berubah. Karena anak mempunya beberapa sifat diantaranya :
1.      Anak bersifat lentur.
2.      Anak mempunyai otak yang besar dan permukaan sangat luas.
3.      Mempunyai pusat saraf yang berfungsi berhubungan dengan perbuatan berfikir, sehingga terjadi penangguhan reaksi dalam menerima perangsang maka terjadilah belajar. bahwa manusia itu untuk dapat menentukan status manusia sebagaimana mestinya adalah harus mendapatkan pendidikan.
Dalam hal ini keharusan mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan yang antara lain dapat  dikemukakan sebagai berikut:
1.      Aspek Pedagogis.
Dalam aspek ini para ahli didik memandang manusia sebagai animal educandum: makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataanya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik. Sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dressur, artinya latihan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis, tidak berubah.
2.      Aspek Sosiologis dan Kultural.
Menurut ahli sosiologi pada prinsipnya, manusia adalah homosocius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau memiliki gazirah (instink) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makluk sosial manusia harus memiliki rasa tanggung jawab sosial (social responsibility) yang diperlukan dalam mengembangkan hubungan timbal balik (inter relasi) dan saling pengaruh mempengaruhi antara sesama anggota masyarakat dalam kesatuan hidup mereka
3.      Aspek Tauhid.
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia itu adalah makhluk yang berketuhanan yang menurut istilah ahli disebut homo divinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut dengan homo religious artinya makhluk yang beragama. Adapun kemampuan dasar yang meyebabkan manusia menjadi makhluk yang berketuhanan atau beragama adalah karena di dalam jiwa manusia terdapat instink yang disebut instink religious atau gazirah diniyah (instink percaya kepada agama). Itu sebabnya, tanpa melalui proses pendidikan instink religious dan gazirah diniyah tersebut tidak akan mungkin dapat berkembang secara wajar. Dengan demikian pendidikan keagamaan mutlak diperlukan untuk mengembangkan instink religious atau gazirah Diniyah tersbut.
 Pendidikan hanya akan menyentuh perilaku manusiawi yang memiliki cirri-cirisebagai berikut :
1)      Manusia memiliki untuk menguasai hawa nafsunya.
2)      Manusia memiliki kesadaran intelektual dan seni. Manusia dapat mengembagkan pengembangan dan teknologi, sehingga menjadikan ia sebagai makhluk berbudaya.
3)      Manusia memiliki kesadaran diri. Manusia dapat menyadari sifat-sifat yang ada pada dirinya. Manusia dapat mengadakan instropeksi.
4)      Manusia adalah makhluk social. Ia membutuhkan orang lain untuk hidup bersama-sam berorganisasi dan bernegara.
5)      Manusia memiliki bahas, simbolis, baik secara tertulis, maupun lisan.
6)      Manusia dpat menyadarai nilai-nilai (etika maupun estetika). Manusia dapat berbuat sesuai denga nilai-nilai tersebut. Manusia memiliki kata hati atau hati nurani.
7)      Manusia dapat berkomunikasi dengan tuhan Yang maha Esa, sebagai pencipta alam semesta. Manusia dapat menghayati kehidupan beragama, yang merupakan nilai yang paling tinggi dalam kehidupan manusia.
Ciri-ciri tersebut di atas sama sekali tidak dimiliki oleh hewan . dengan cirri-ciri itulah manusia dapat dididik dan dapat memperbaiki perilakunya dalam suatu bentuk pribadi yang utuh.hanya manusialah yang dapat dididik dan memungkinkan dapat menerima pendidikan.
3.    Batas-Batas Kemungkinan Pendidikan
Dalam menentukan batas batas pendidikan manusia akan mengalami persoalan, mereka akan menemui   beberapa pertanyaan tentang kapan pendidikan dimulai dan bila mana pendidikan akan berakhir. Dalam sebuah hadist menyatakan : Artinya : carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat. Dan juga pernah kita temukan satu istilah dalam bahasa inggris yang menyatakan : Long live education” yang artinya  “pendidikan seumur hidup”. Dari pernyataan pernyatan tersebut tergambarkan jelas bahwa pendidikan akan dimulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung terus sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh pengaruh, oleh karena itu pendidikan akan berlangsung seumur hidup. Namun dalam mengalami proses pendidikan menusia akan mendapatkan pendidikan dimana akan terdapat pembatasan nyata dari proses pendidikan dalam jangka waktu tertentu (Daradjat, 2000:48 ).
B.    Anak Manusia dalam Kondisi Perlu Bantuan
Manusia pada saat ia dilahirkan dilahirkan tidak langsung dapat mengembangkan kemanusiaannya, karena ketidakberdayaan dan kelemahan yang ia miliki secara kodrati memerlukan uluran pihak luar untuk membantunya. Namun secara kodrati pula anak dilahirkan dengan potensi untuk berkembang menuju kemandirian. Potensi inilah yang perlu dipahami oleh pihak luar khususnya orangtua (pendidik), sehingga potensi tersebut dapat berkembang secara optimal.
1.    Manusia lahir tidak berdaya
Manusia adalah hewan berakal budi, manusia adalah hewan yang pandai bicara, manusia adalah yang belum selesai, dan sebagainya. Kesadaran akan kemungkinan dan kemampuan menggunakan alat merupakan permulaan kebudayaan manusia yang membedakan kehidupan manusia secara prinsipil berlainan dengan kehidupan hewan.
Pada saat dilahirkan manusia dapat dikatakan dalam keadaan hewan, bahkan mungkin kurang dari hewan. Dibandingkan dengan kelahiran hewan yang terdekat dengan jenisnya, manusia boleh dikatakan “lahir terlalu dini”, sebelum ia memiliki spesialisasi tertentu, sebelum ia dapat menolong dirinya sendiri, ia telah “terlanjur” dilahirkan. Namun justru karena kekurangannya inilah manusia memiliki “kelebihan” dibanding dengan hewan.
2.    Manusia belum dapat menolong dirinya sendiri
Manusia dilahirkan dalam keadaan belum dapat menolong dirinya sendiri, juga dalam hal-hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Dengan kata lain : “Manusia berada dalam keadaan perlu bantuan”, dan bantuan harus datang dari pihak lain. Tanpa bantuan dari pihak lain, manusia tidak mungkin melangsungkan hidupnya. Bantuan tersebut tidak saja bagi kehidupan fisiknya, namun juga bagi kehidupan psikisnya, dan kehidupan sosialnya.
Kebutuhan terhadap ruang akan dirasakannya, tidak sekedar kebutuhan terhadap pemertahanan kehidupan biologisnya, melainkan juga kebtuhan psikologis, kebutuhan sosial, kebutuhan normatif, yang juga merupakan ciri khas yang manusiawi. Untuk memenuhi kebutuhan ini ia memerlukan bantuan.
3.    Manusia dilahirkan dalam lingkungan manusiawi
Manusia dilahirkan dalam lingkungan manusiawi yang bertanggung jawab, yang berperasaan, bermoral, dan yang sosial. Keadaan anak manusia yang perlu bantuan itu menggugah dan mengundang kasih sayang bagi orang dewasa khususnya kedua orangtuanya. Ketidaktahuan anak akan segala sesuatu diimbangi orangtua dan guru dengan mengajar dan mendidiknya. Ketidakterampilan anak dalam melakukan hal-hal yang harus dilakukannya diimbangi orangtua, dan guru dengan melatih dan membiasakannya. Kelemahan anak diimbangi dengan kasih sayang orangtua dan guru yang memang dirasakan suatu keperluan untuk menumpahkannya.
Segala pemberian bantuan itu tidak dirasakannya berat, malahan menyenangkan karena hal itu dipandang sebagai tugasnya dan malahan sebagai kebutuhannya. Maka terjadilah kasih sayang yang timbal balik antara kedua pihak itu yang selanjutnya memungkinkan lahirnya saling memahami antara keduanya. Keadaan memerlukan bantuan dengan demikian tidak merupakan suatu beban bagi kedua pihak, melainkan justru dirasakan merupakan suatu karunia yang memikat dan memperdalama hubungan kedua pihak sehingga pelepasan dan pemisahannya kelak berjalan dengan lancar.
C.    Dasar dan Ajar
1.    Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia
a.    Faktor Keturunan
Anak memiliki warisan sifat-sifat bawaan yang berasal dari kedua orangtuanya, merupakan potensi tertentu sudah terbentuk dan sukar diubah. Menurut H.C.Witheringtone, dalam aAbu Ahmadi (2001), heriditas adalah proses penurunan sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu dari suatu generasi ke generasi lain dengan perantaraan sel benih.
b.    Faktor Lingkungan
Lingkungan disekitar manusia dapat digolongkan kepada dua jenis lingkungan manusia, yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik. Lingkungan abiotik adalah lingkungan makhluk tidak bernyawa, sedangan lingkungan biotik adalah lingkungan makhluk hidup bernyawa.
c.    Faktor diri
Guru harus memahami faktor diri yang merupakan faktor kejiwaan kehidupan seorang anak. Faktor-faktor ini dapat berupa emosi, motivasi, intelegasi, sikap, kemampuan berkomunikasi, dan sebagainya.
2.    Aliran-aliran Pendidikan
a.    Nativisme
Dalam pendidikan aliran navitisme dipelopori oleh Schopenhaure (filosof jerman : 1788-1860) yang berpendapat bahwa “the world is my idea, the world, like man, is trough will end through idea”. Segala kejadian di dunia dipandangnya sebagai manifestasi dari benih yang ada padanya semula. Hal ini tidak saja berlaku bagi tanaman, melainkan juga bagi organisme termasuk manusia. Oleh karena itu, maka yang penting adalah prokreasinya. Perkembangan manusia hanya merupakan semacam penjabaran dari yang telah disiapkan semula, yang telah dibawanya sejak kelahirannya.
    Aliran nativisme berkeyakinan bahwa anak yang baru lahir membawa bakat, kesanggupan dan sifat-sifat tertentu. Bakat, kemampuan, dan sifat-sifat yang dibawa sejak lahir sangat menentukan dalam pertumbuhan perkembangan anak manusia. Pendidikan dan lingkungan tidak berpengaruh terhadap perkembangan anak.
    Menurut pandangan naitivisme perkembangan seseorang sepenuhnya ditentukan oleh bakat pembawaannya. Namun ternyata masalah bakat itu bukan sesuatu yang mudah dapat dikenal. Bakat dalam artiannya yang utuh, tidak dapat dikenal manusia. Bakat dalam artiannya yang utuh ini baisa disebut genotype dari bakat. Genotype dari bakat ini mennetukan apa yang akan terjadi dengan suatu organisme dalam suatu lingkungan tertentu, serta menentukan pula karakteristik hereditas yang akan dialihkannya kepada keturunannya.
    Pandangan ini nampaknya kurang mempercayai bahwa pendidikan akan mampu mengubah atau mengarahkan tingkah laku seseorang. Peranan pendidikan sangat kurang. Kalaupun ada, hanya sampai pengembangan bakat yang telah ada. Oleh karena itu, pandangan ini bersikap pesimis terhadap usaha-usaha pendidikan, dikatakan paham ini sebagai pesimisme pedagogis. Menurut pandangan ini, bahwa perkembangan manusia dalam kehidupannya akan tergantung terhadap bawaannya/bakat yang dibawa sejak lahir, sehingga pengaruh dunia sekitar kurang sekali.
    Sebaliknya pandangan ini sangat percaya pada “modal” atau “perlengkapan” yang telah dibekalkan alam kepada anak bersaa kelahiranya. Kepercayaan yang berlebihan kepada alam ini menyebabkan pandangan ini dijuluki pula dengan pandangan optimisme dan naturalisme. Dengan menggunakan kiasan dari ucapan james, maka pandangan nativisme terhadap perkembangan manusia dapat dirumuskan dengan ucapan : “man are born, not build,” manusia dilahirkan bukan karena dibentuk.
b.    Naturalisme
Natur artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Aliran naturalisme yang dipelopori J.J. Rousseau filosof perancis (1712-1778). Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang dilahirkan berpebawaan baik, dan pembawaan baik anak tersebut akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Pendidikan yang diberikan orang dewasa bisa merusak pembawaan anak yang baik itu. Aliran ini biasa disebut juga negativisme karena pendidik harus membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi pendidikan dalam arti bimbingan dari orang luar (orang dewasa) tidak diperlukan.
    Sebagai pendidik rousseau mengajukan konsep “Pendidikan alam”. Artinya, anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia atau masyarakat dalam mencampurinya. Upaya pengembangan anak didik dilaksanakan dengan menyerahkannya ke alam, agar pembawaan yang baik tidak menjadi rusak oleh tangan manusia.
c.    Empirisme
Menurut pandangan empirisme, perkembanga pribadi manusia tergantung kepada pengaruh yang datang dari luar, sama sekali tidak memperhatikan pembawaan atau bakat anak. John Locke sebagai tokoh empirisme, mengembalikan seluruh pengetahuan dan perkembangan manusia kepada pengalaman yang didapatnya dari lingkungan. Penganut aliran empirisme memandang manusia sebgaia makhluk pasif yang dapat dimanipulasi, misalnya melalui modifikasi (memperbaiki) tingkah laku.
    Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari diperoleh dari dunia sekitarnya yang berupa stimulus-stimulus. Rangsangan ini berasal dari alam bebas, atau diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. Aliran ini dipandang berat sebelah sebab hanya mementigkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan.
Menurut pandangan empirisme, pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman. Pengalaman-pengalaman tersebut tentunya yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Berlawanan dengan nativisme, teori ini menunjukkan sikap optimis terhadap pendidikan sehingga dijuluki optimisme pedagogis.
d.    Konvergensi
Konvergensi berarti pertemuan antara dua garis lurus pada satu titik. Stern berpendapat bahwa perkembangan individu mendapat pengaruh baik dari bawaan (dasar) maupun lingkungan, termasuk pedidikan (ajar).
    Apa yang dimiliki seseorang sebagai bawaan atau bakat, belum merupakan suatu kenyataan melainkan berupa keungkinan atau menurut istilahnya disposisi. Dalam istilah ini terkandung pengertian potensi dan tendensi atau kecenderungan untuk mengaktualisasi diri. Ini berarti bahwa perkembangan seseorang tidak sekadar “manifestasi dari apa yang tersirat benih” melainkan terarah, selaras dengan kondisi yang terkandung dalam lingkungan. Dengan kata lain, perkembangan seseorang tidak sekdar ditentukan oleh dasar saja melainkan juga ajar mempunyai peranannya.

No comments

Powered by Blogger.