Urban Scouting


    Urban Scouting adalah upaya untuk membuat kepramukaan kembali relevan karena  angka kepramukaan menurun setelah kepramukaan dari generasi baby boom mulai menua  dan jumlah pemuda yang tersedia berkurang. Tema yang relevan dengan anak-anak, menghasilkan tampilan perkotaan untuk memasukkan anggota potensial di mana angka kepanduan turun lebih cepat di kota-kota. Jadi urban scouting mencari lingkungan perkotaan untuk membangun kembali angka peminat Pramuka.
Ketua Pramuka Jawa Barat, Dede Yusuf mengatakan urban scouting adalah solusi untuk mencegah hilangnya daya tarik pelajar dan mahasiswa untuk mengikuti kegiatan Pramuka.Konsep urban scouting yang dimaksudnya adalah konsep kepramukaan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan masyarakat perkotaan.
“Bermain mencari jejak bukan lagi di hutan tapi di tengah kota, di dalam mall atau plaza. Bermain dengan aplikasi gadget dan internet, film indie, citizen jurnalism dan media sosial.”
Meski demikian bukan berarti Pramuka menghilangkan kegiatan alam bebas yang selama ini menjadi trade mark organisasi pendidikan karakter tersebut melainkan Pramuka mempunyai varian-varian kegiatan yang lebih bewarna dan relevan dengan perkembangan zaman. Melatih kemandirian dan kepribadian berbudi  pekerti tidak mesti dilakukan di dalam hutan atau alam bebas karena pada realitanya yang dihadapi adalah kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat  tempat tinggal.
“Kecenderungan pelajar di perkotaann kurang minat ke Pramuka karena kegiatan yang ditawarkannya dirasakan kurang up to date dengan urban scouting ini kita akan lakukan wide game dan urban game dengan berbasis digital agar disukai remaja perkotaan.” Apabila program urban scouting ditetapkan maka Pramuka di kota-kota besar tidak akan kekurangan peminat.   
Pendidikan kepramukaan dengan mejadikan “alam kota” sebagai arena dan media latih dengan berpegang teguh pada filosofi, nilai-nilai dan prinsip dasar pendidikan kepanduan yang digagas oleh BP dan dikembangkan atas dasar kearifan dan tantangan lokal oleh Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengkubowono IX. Pemikiran ini dilandasi bahwa aspirasi anak dan remaja kota sudah sedemikian kompleks, beragam dan jauh ke depan sehingga memerlukan “layanan pendidikan kepramukaan yang tidak hanya berbasis pada alam bebas dengan segenap dimensinya namun juga berbasi alam kota tempat mereka sehari-hari tinggal, tumbuh dan berkembang.” Urban scouting adalah pendidikan kepramukaan yang memanfaatkan alam bebas dan alam kota secara bersama, saling melengkapi untuk menghadirkan kegiatan kepramukaan yang inovatif, kreatif, rekreatif, relevan dan dekat dengan lingkungan peserta didik. Pada tataran “sof skills” urban scouting tetap menggunakan segenap media, materi dan metoe pendidikan kepramukaan yang selama ini dikenal seperti kiasan dasar, upacara sebagai media pendidikan, permainan yang mengandung pendidikan, halang rintang, cerita-nyanyi dan tepuk tangan, perkemahan, penjelajahan, bivak, sistem beregu, dan sebagainyya. Pada aspek pendidikan karakter atau soft skills, urban scouting cukup menggunakan instrumen-instrumen pendidikan kepramukaan yang sudah ada. Justru di sinilah kelebihan pendidikan kepramukaan memiliki sumber daya latihan pendidikan karakter yang melimpah. Namun pasa tataran “hard skills” urban scouting perlu merumuskan kembali ketermpilan baru melengkapi keterampilan tradisional yang selama ini sudah dikenal. Terlalu terpaku pada keterampilan tradisional akan menyebabkan pendidikan kepramukaan tidak menarik karena tidak lagi relevan dengan lingkungan hidup para peserta didik. Dalam kaitan ini terdapat sejumlah materi pendidikan keterampilan yang bisa dijadikan sebagai materi “urban scouting skills”
Penerapan urban scouting skills membutuhkan pendekatan manajemen gugus depan dan kwartir yang baru dan membutuhkan kompetensi baru para pembina pramuka. Beragamnya bentuk dan sifat urban scouting skills tetntu tidak mungkin dikuasai oleh seorang pembina pramuka juga tidak mungkin hanya dikelolah oleh jajaran kwartir. Dalam kaitan dengan hal tersebut maka perlua dikembalikan konsep pendidikan yang terbuka, pembentukan jaringan supporting pendidikan kepramukaan berbasis masyarakat dan pemerintah, perlu menghidupkan korps instruktur ditingkat kwaran/kwarcab.

No comments

Powered by Blogger.